Setelah membaca artikel di bawah ini dan mempelajarinya dengan cermat selama berbulan-bulan dan juga setelah membaca topik yang sama dari banyak sumber, aku sampai pada sebuah kesimpulan dan memutuskan untuk TIDAK pake jilbab lagi. Namun begitu aku tidak menentang kaum wanita yang memakai jilbab karena bagiku hal itu adalah pilihan pribadi dan bukanlah kewajiban terhadap Allah. Please read it with an open mind and tell me what you think. TIGA PERATURAN TENTANG CARA BERPAKAIAN WANITA DALAM ISLAM PERTAMA, PAKAIAN YANG TERBAIK: [7:26] “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah sebagai perhiasan. Dan pakaian yang terbaik adalah pakaian yang sederhana dan sopan. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah2an mereka memperhatikan.” Ini adalah peraturan dasar cara berpakaian dalam Al-Qur’an. Peraturan pertama cara berpakaian wanita dalam Islam. KEDUA, TUTUPI DADAMU: Peraturan kedua ini dapat dilihat dalam surah 24:31. Disini Allah memerintahkan kaum wanita untuk menutupi dada mereka kapan saja mereka berpakaian. Tetapi, sebelum mengutip ayat tersebut, marilah kita meninjau beberapa kata penting yang selalu dikaitkan dengan topik ini, yaitu “Hijab” (jilbab) dan “Khimar” (penutup) KATA “HIJAB” DALAM AL-QUR’AN “Hijab” adalah istilah yang digunakan oleh banyak kaum muslimah sebagai penutup kepala mereka, ada yang menutupi wajah mereka juga kecuali mata, dan kadang2 juga menutupi satu mata. Kata “hijab” dalam bahasa Arab bisa diartikan sebagai kerudung. Arti lain dari kata “hijab” adalah tabir, penutup, lapisan, korden, tirai, pembatas, pembagi. Dapatkah kita temukan kata “hijab” dalam Al-Qur’an? Kata “hijab” muncul dalam Al-Qur’an 7 kali, lima diantaranya sebagai “Hijab” dan dua kali sebagai “Hijaban (un),” yaitu dalam surah 7:46, 33:53, 38:32, 41:51, 17:45 & 19:17. Tidak satupun dari kata “Hijab” tersebut yang mengacu kepada apa yang disebut kaum muslimin saat ini yaitu jilbab sebagai peraturan berpakaian untuk kaum muslimah. Hijab dalam Al-Qur’an tidak ada hubungannya dengan jilbab. LATAR BELAKANG SEJARAH: Sementara banyak kaum muslimin menyebut “Hijab” sebagai peraturan berpakaian Islamic, mereka sepenuhnya mengabaikan kenyataan bahwa Hijab sebagai peraturan berpakaian, tidak ada hubungannya dengan Islam dan tidak ada hubungannya dengan Al-Qur’an. Dalam kenyataannya “Hijab” adalah tradisi lama kaum Yahudi yang dimasukkan dalam buku-buku hadith seperti banyak pembaharuan2 yang mengkontaminasi (mencemarkan) Islam yang dinyatakan melalui Hadith dan Sunnah. Hijab ini dalam kenyataannya berasal dari kaum Yahudi. Setiap pelajar yang mempelajari tradisi Yahudi atau buku2 agama Yahudi akan mengetahui bahwa penutup kepala untuk kaum wanita Yahudi dianjurkan oleh para Rabbi dan pemimpin2 agama. Kaum wanita Yahudi masih menutupi kepala mereka hampir sepanjang waktu dan khususnya dalam acara2 synagogues (tempat beribadat), perkawinan dan perayaan2 keagamaan. Wanita2 Kristen menutup kepala mereka dalam banyak acara keagamaan sementara para biarawati menutup kepala mereka sepanjang waktu. Praktek agama menutup kepala ini sudah ada ribuan tahun sebelum para ahli Muslim mengklaim hijab sebagai peraturan berpakaian kaum muslimah. Orang2 Arab, Yahudi, Kristen dan Muslim biasa menggunakan “Hijab”, bukan karena Islam tapi karena tradisi atau kebiasaan. Di Arab Saudi, sampai detik ini, kebanyakan para prianya menutup kepala mereka, bukan karena Islam tapi karena tradisi. Afrika Utara dikenal karena sukunya (Tuareg) yang mengharuskan kaum prianya memakai “Hijab” dan bukannya kaum wanita. Jika memakai Hijab adalah pertanda kealiman dan kebajikan kaum muslimah, ibu Teresa seharusnya menjadi wanita pertama yang diperhitungkan. Dan dia bukan seorang muslim. Singkat kata, hijab adalah tradisi berpakaian dan tidak ada hubungannya dengan Islam ataupun agama. Di daerah2 tertentu di dunia, kaum pria lah yang memakai hijab dan bukannya kaum wanita. Mencampur-adukkan agama dan tradisi adalah musyrik, sebab dengan tidak mengetahui (atau tidak berusaha mencari tahu) apa yang Allah perintahkan untuk kamu lakukan dalam bukuNya, Al-Qur’an, berarti mengabaikan Allah dan perintahNya. Ketika tradisi menggantikan firman Allah, agama menjadi tempat kedua. KATA "KHIMAR" DALAM AL- QUR’AN: "Khimar" adalah kata dalam bahasa Arab yang bisa ditemukan dalam Qur’an surah 24:31. Sementara peraturan dasar pertama tentang berpakaian untuk kaum muslimah dapat ditemukan dalam surah 7:26, peraturan kedua dapat ditemukan dalam surah 24:31. Beberapa Muslim mengutip ayat 31 dari surah 24 sebagai hijab, atau penutup kepala, dengan menunjuk kata, khumurihinna (dari Khimar), melupakan bahwa Allah sudah menggunakan kata Hijab beberapa kali dalam Al-Qur’an. Bagi mereka yang dirahmati oleh Allah dapat melihat bahwa penggunaan kata “Khimar” dalam ayat ini bukanlah untuk “hijab” atau untuk penutup kepala. Mereka yang mengutip ayat ini biasanya menambahkan (penutup kepala) setelah kata khumurihinna, dan biasanya antara ( ), karena itu adalah tambahan dari mereka bukan dari Allah. Qur’an 24:31; "Katakan kepada wanita yang beriman untuk menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya. Janganlah mereka menampakkan setiap bagian dari tubuh mereka, kecuali yang biasa nampak darinya. Hendaklah mereka menutup dada mereka (dengan Khimar mereka) dan janganlah menampakkan perhiasannya kecuali kepada suami mereka, ayah mereka, ayah suami mereka, putera2 mereka, putera2 suami mereka, saudara2 laki-laki mereka, putera2 saudara laki-laki mereka, putera2 saudara perempuan mereka, wanita2 Islam, budak2 yang mereka miliki atau pelayan2 laki-laki yang tidak mempunyai keinginan, atau anak2 yang belum mencapai puberitas. Dan janganlah mereka memukulkan kakinya ketika berjalan agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan. Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang2 yang beriman supaya kamu beruntung. "Khimar" adalah kata dalam bahasa Arab yang artinya penutup, penutup apa saja, korden adalah khimar, pakaian adalah khimar, taplak meja adalah khimar, selimut khimar juga, dll. Kata KHAMRA yang digunakan untuk minuman keras dalam bahasa Arab memiliki akar kata yang sama dengan Khimar, karena keduanya berarti penutup, kata Khimar berarti penutup untuk (jendela, tubuh, meja, dll) sementara Khamar penutup untuk akal sehat. Kebanyakan terjemahan, jelas sekali dipengaruhi oleh hadith (yang palsu/dibuat-buat) menterjemahkan kata khimar sebagai penutup kepala dan menyesatkan banyak orang untuk mempercayai bahwa ayat ini menganjurkan untuk menutup kepala. Dalam surah 24:31, Allah memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan penutup mereka [(khimar) bisa jadi baju, mantel, selendang, kemeja, blus, dasi, syal, dll] untuk menutup dada mereka, bukan kepala atau rambut mereka. Jika Allah berkehendak untuk memerintahkan wanita menutup kepala atau rambut mereka, tidak ada yang bisa menghalangi. Allah tidak kehabisan kata-kata. Allah tidak lupa. Jadi, Allah tidak memerintahkan wanita untuk menutup kepala atau rambut mereka. Kata dalam bahasa Arab untuk dada, ada dalam ayat ini (24:31), tapi kata dalam bahasa Arab untuk kepala (raas) atau rambut (shaar) tidak ada dalam ayat ini. Firman dalam ayat ini adalah jelas – TUTUPI DADAMU, akan tetapi kebanyakan terjemahan jelas2 mengklaim – tutupi kepalamu atau rambutmu. Perhatikan juga pernyataan dalam surah 24:31, “Janganlah memperlihatkan bagian tubuh mereka, kecuali yang biasa nampak darinya.” Pernyataan ini bisa jadi tidak jelas atau samar-samar bagi banyak orang karena mereka tidak mengerti kemurahan hati Allah. Sekali lagi Allah menggunakan istilah yang sangat umum ini untuk memberikan kita kebebasan untuk memutuskan sesuai dengan keadaan kita sendiri definisi dari “Yang perlu / biasa nampak”. Bukan tergantung dari para ahli agama untuk mendefinisikan ‘kecuali yang biasa nampak darinya’ ini. Itu tergantung dari pribadi masing-masing wanita untuk memutuskan yang terbaik bagi mereka. Pada akhir ayat ini, Allah memerintahkan kaum wanita untuk tidak memukulkan kakinya agar memperlihatkan perhiasan mereka. Kamu tidak memukulkan kaki untuk memperlihatkan perhiasanmu tetapi cara kamu menghentakkan kaki ketika berjalan bisa mengekspose atau menggoyangkan bagian2 tertentu dari tubuhmu yang tidak perlu di tegaskan. Menerima perintah dari sumber lain kecuali dari Allah artinya sama dengan musyrik. Wanita yang memakai hijab dikarenakan oleh tradisi atau karena mereka suka atau karena alasan2 pribadi, tidak mengapa, asalkan mereka tahu bahwa memakai hijab bukanlah bagian dari agama. PERATURAN KETIGA Peraturan pertama ada dalam surah 7:26, kedua dalam surah 24:31 dan yang ketiga adalah surah 33:59. “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak2 perempuanmu dan istri-istri orang mukmin bahwa mereka harus memanjangkan pakaian mereka (kebanyakan diterjemahkan sebagai “hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya). Yang demikian itu supaya mereka dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Dalam surah 33:59, Allah membuat peraturan lain tentang cara berpakaian untuk kaum muslimin dimasa ketika Rasulullah masih hidup. Meskipun ayat ini ditujukan kepada Rasulullah, yang artinya peraturan ini berlaku pada masa hidup Rasulullah, sama seperti perintah dalam ayat 49:2, deskripsi ini cocok dengan jiwa Islam, dan dapat kita ambil sebagai pelajaran. Jika kita merefleksikan ayat ini dan bagaimana Allah memerintahkan Rasulullah untuk mengatakan kepada istri2nya, anak2 perempuannya dan istri2 orang mukmin untuk memanjangkan pakaian mereka, kita akan mengerti betapa Allah itu Maha Bijaksana dan Maha Pengampun. Dalam ayat ini, Allah berfirman, katakanlah kepada mereka untuk memanjangkan pakaian mereka, dan tidak mengatakan segimana batas panjangnya. Allah bisa saja mengatakan untuk memanjangkan pakaian mereka sampai batas lutut atau betis atau tumit, tapi Allah tidak mengatakan itu. Bukan karena Allah lupa tapi karena Allah tahu bahwa kita akan hidup dalam komunitas2 yang berbeda dan memiliki kebudayaan2 yang berbeda sehingga perincian tentang sebatas mana memanjangkan pakaian ini tergantung kepada setiap pribadi dari setiap komunitas untuk memutuskan. Sudah jelas dari ayat2 tersebut diatas bahwa peraturan berpakaian untuk wanita2 muslim sesuai dengan Al-Qur’an adalah kesederhanaan dan sopan. Allah tahu bahwa kesederhanaan ini akan diartikan berlainan dalam komunitas yang berbeda dan itulah sebabnya mengapa Allah tidak memberikan batasan tertentu dan menyerahkannya kepada pribadi masing2 untuk memutuskan apa yang terbaik bagi mereka. Kesederhanaan bagi wanita yang tinggal di New York mungkin tidak bisa diterima oleh wanita yang tinggal di Cairo Mesir. Kesederhanaan bagi wanita yang tinggal di Cairo Mesir mungkin tidak bisa diterima oleh wanita yang tinggal di Arab Saudi. Kesederhanaan bagi wanita yang tinggal di Jeddah mungkin tidak bisa diterima oleh wanita yang tinggal di padang pasir walaupun tinggal di negara yang sama. Perbedaan dalam mengartikan kesederhanaan ini sudah diketahui oleh Allah, Allah yang menciptakan manusia, dan Allah tidak mempersulit kita dalam agama yang luar biasa ini. Allah membiarkan kita untuk memutuskan seperti apa kesederhanaan itu. PERATURAN BERPAKAIAN DI DALAM MESJID [7:31] "Hai anak Adam, pakailah pakaian yang bersih dan indah ketika memasuki mesjid. Dan makan dan minumlah, dan janganlah berlebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebihan.” KESUKARAN DALAM AGAMA ISLAM Allah yang Maha Penyayang, Maha Pengasih memutuskan bahwa mereka yang menolak bukuNya yang sempurna ini dan mencari sumber-sumber lain sebagai petunjuk akan menderita dalam kehidupan dunia dan akhirat dikarenakan pilihan mereka. Allah tidak mempersulit penganutNya, melainkan para ahli agama yang membuat-buat hukum mereka sendiri dengan melanggar hukum Allah, mengatur segala sesuatunya mulai dari sisi sebelah mana kamu tidur, kaki yang mana harus melangkah ketika masuk ke rumah, apa yang harus dilakukan terhadap lalat yang nyemplung ke dalam sup mu, apa yang harus dikatakan ketika melakukan hubungan suami istri. Mereka-mereka yang percaya kepada Allah dan percaya bahwa bukuNya adalah lengkap, sempurna dan terperinci, akan menemukan kemudahan seperti yang dijanjikan Allah, lihat surah 10:62-64, 16:97 sementara mereka-mereka yang tidak percaya kepada Allah dan masih mencari sumber-sumber lain selain Al-Qur’an akan menemukan kesukaran di dunia dan akhirat. Di akhirat nanti mereka akan mengeluh kepada Allah, “kami tidak mempersekutukan Allah,“ tapi Allah tahu yang terbaik, Dia tahu bahwa mereka mempersekutukanNya. Lihat surah 6:22-24. “Pada hari diwaktu Kami menghimpun mereka semua, kami akan bertanya kepada orang-orang musyrik, “Dimanakah sembahan-sembahan yang kamu buat? “Mereka dengan putus asa akan menjawab, “Demi Allah Tuhan kami, tiadalah kami mempersekutukan Allah.” Lihatlah, bagaimana mereka telah berdusta terhadap diri mereka sendiri, dan bagaimana sembahan-sembahan yang mereka buat telah menelantarkan mereka.” 6:22-24 KESIMPULAN: Allah yang Maha Pengasih, telah memberikan kita tiga peraturan dasar cara berpakaian untuk kaum wanita dalam Islam. 1. Pakaian terbaik adalah pakaian yang sederhana dan sopan. 2. Kapan saja kamu berpakaian, tutupi dadamu. 3. Panjangkanlah pakaianmu. Sementara tiga peraturan dasar ini mungkin belum cukup bagi mereka-mereka yang tidak yakin kepada Allah, penganut sejati tahu bahwa Allah telah mencukupkan peraturannya. Allah bisa saja memberikan yang lebih terperinci lagi seperti peraturan mengenai grafik, rancangan dan warna baju, akan tetapi Allah yang Maha Pengampun, hanya memberikan tiga peraturan dasar ini dan yang lainnya terserah kita masing-masing untuk mengartikannya dengan bijaksana. Setelah tiga peraturan dasar ini, setiap wanita lebih sadar/tahu akan keadaannya dan dapat menyesuaikan pakaiannya sesuai dengan situasi dimana dia berada. Kita tidak punya kewajiban untuk mengikuti selain peraturan Allah. Perubahan-perubahan atau pembaharuan-pembaharuan dan peraturan yang dibuat-buat tidak ada bedanya dengan musyrik dan kemusyrikan harus ditentang. Tetaplah mengikuti hukum-hukum Allah. Semoga Allah memberkati dan merahmati kita dengan belas kasih dan petunjukNya.
Sumber: www.free-minds.org  | Assalamu'alaikum wr wb, Menarik sekali pembahasan di atas, kelihatan sekali betapa cerdasnya anda tapi sayang kalau kecerdasan itu akan membawa anda jauh dari-Nya. Sebelumnya izinkan saya yg untuk sedikit memberi masukan (maaf saya bukan ahli apa2, saya hanyalah seorang ibu dan seorang muslimah yang ingin sedikit berbagi, kalau kita tidak sependapat maka maafkanlah saya sebelumnya). Menurut yg pernah saya baca bahwa umat Muhammad akan diwariskan dua hal yaitu "Alqur'an dan Hadits" maksudnya disini jika peraturan yang Allah.SWT turunkan dalam Alquran tidak rinci kita harus merujuk kepada perkataan beliau yang tertuang dalam hadits. Anda tidak pernah menggandengkan setiap ayat yang anda jadikan acuan dalam memberikan argumen dengan hadits. Seperti yang saya tahu pada surah 33:59 yang artinya anda tulis “Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak2 perempuanmu dan istri-istri orang mukmin bahwa mereka harus memanjangkan pakaian mereka (kebanyakan diterjemahkan sebagai “hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya). Yang demikian itu supaya mereka dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih." dari terjemahan ini (kebanyakan diterjemahkan sebagai “hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya) sebenarnya jelas bahwa anda sepertinya ragu kalau ada kata2 "jalaabiibihinna" yang artinya jelas2 "jilbab". mengenai batasannya karena tidak jelas diayat tersebut kita harus mengacu pada hadits. saya tidak memaksa siapapun termasuk anda, dengan anak2 sayapun saya tidak pernah memaksa mereka tuk melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan sebagai seorang muslim, saya hanya memberikan pertanyaan "kamu mau masuk syurga, maka ikutilah aturan-Nya". Alhamdulillah walaupun terlalu dini tapi saya sangat bersyukur mereka selalu bisa menerima apa yang telah saya tanamkan ke mereka. Dulu kala mereka selalu saya suruh sholat mereka selalu berargumen "Why we must do pray, mum?" atau anak kedua saya ngedumel "u always say that mummy?" tapi alhamdulillah semua kesabaran saya dalam menanamkan mana yang haq dan yang bathil sudah kelihatan hasilnya, mereka selalu sholat 5 waktu wlpun usia mereka masih terlalu muda tuk bisa melakukan itu lengkap. Mereka tidak komplain lagi kalau mereka lihat saya tidak sholat dan tidak berpuasa di bulan ramadhan, karena mereka sudah tau "mengapa?". Maaf kepanjangan dan agak melenceng dari permasalahan tapi sebagai sesama muslim rasanya saya terpanggil tuk menyampaikan ini. Sekali lagi maaf kalau ada yg tidak berkenan, ang benar hanya datang dari-Nya sedangkan yang slah itu milik saya.
|
 | taxcha wrote on Dec 20, '07, edited on Dec 21, '07 Assalamualaikum, maaf mau numpang berkomentar, saya menghargai pendapat dan keputusan mbak, namun hanya ingin saling mengingatkan kembali, bahwa ada Hadis yang menyebutkan, seorang wanita yang akil baliq hanya pantas terlihat wajah dan telapak tangannya saja.
Kemudian yang kedua, saya yakin tindakan sekecil apapun yang kita lakukan, bila kita lakukan demi Allah semata, pasti akan mendapatkan balasannya, termasuk keputusan berhijab, di mana pun kita berada, dalam kondisi apapun kita hidup.
Apakah Allah butuh hijab kita? Apakah Allah butuh shalat dan doa kita? Tidak, Allah tidak butuh apapun dari manusia, sesungguhnya manusialah yang butuh kedekatan dengan Yang Maha Kuasa.
Sehingga, menurut saya pribadi, daripada mencari-cari kesalahan atau celah dari ayat-ayat Allah, akan lebih baik kita meniatkan segala sesuatunya demi Allah. Dan sesungguhnya memang akan selalu ada cobaan, termasuk dalam keteguhan kita berhijab, dan di situlah kita dites, sejauh mana kita kuat menghadapinya.
Wallahu alam bisshowab. |
 | Assalamualaikum ww. Sebelumnya mohon maaf sebesar-besarnya, saya sangat menghargai pendapatnya. Namun sesama umat Muhammad kita harus saling mengingatkan. saya bukan ahli agama, dan saya juga bukan orang yang suka belajar dari sumber yang tidak jelas dan tidak dapat dipertanggungjawabkan. Misalnya saat ini banyak buku-buku, bacaan-bacaan baik media maya maupun nyata yang sumbernya dipertanyakan. Ingatlah, bahwa ummat muslin harus menutup auratnya dan aurat muslimah yang boleh terbuka adalah "telapak tangan dan wajah". Dari sini jelas bagian tubuh yang lain harus ditutup. Tidak pake jilbab pun tak apa, yang penting "tertutup" Saya sangat terkesan dengan tulisannya, mbak kelihatan sangat cerdas, alangkah lebih baik mensyukuri kecerdasan itu dengan mendekatkan diri padaNYA. Semoga Allah membuka hatinya dan mbak diberi penerangan dan petunjuk, bahwa yang benar adalah benar dan yang salah adalah salah. jangan ada yang disamarkan
Wassalam |
 | tanty06 wrote on Dec 26, '07, edited on Dec 26, '07 Assalamu'alaikum Hums07,
"Menarik sekali pembahasan di atas, kelihatan sekali betapa cerdasnya anda tapi sayang kalau kecerdasan itu akan membawa anda jauh dari-Nya."
Alhamdulillah, justru dengan kecerdasan yang diberikan Allah, saya merasa lebih dekat kepada-Nya. Saya bisa mengkaji, mempelajari dan menelaah ayat2 Al Qur'an dengan lebih teliti dan open minded. A woman that wearing hijab doesn't mean that she is a better muslim than the women that are not. Only Allah that can judge. Mengenai hadits, silakan baca postingan saya "The Myth of Hadits!". Saya hanya mengacu kepada Al Qur'an yang sudah jelas, lengkap, sempurna dan terperinci. |
 | Assalamualaikum, wr.wb. Adinda Tanty, uni ceritakan pengalaman uni k,l 28 tahun yang lalu (1980), ketika mengikuti kegitan Mujahid Dakwah di Mesjid Salman - ITB. Ketika itu semua mahasiswi diwajibkan menggunakan jilbab. Ketika kegiatan sesudahnya kami tetap diwajibkan menggunakan jilbab, uni kaget bukan kepalang. Dalam materi dititipkan tata cara berpakaian. Katanya semua tertuang dalam Qur.an dan hadis. Ketika itu, uni bertanya pada Pak Miftah Farid sebagai dosen ITB waktu itu tentang soal ini. Ternyata beliau secara luwes menyatakan bahwa apa yang tertuang dalam al qur'an, tidaklah seberat kewajiban bila kita tidak menjalankan rukum islam, yaitu sholat, puasa, zakat, haji. Nah hatiku gembira. Beliau ternyata cukup arif dan bijaksana. Bahwa sebenarnya tata cara berpakaian seperti yang diatur dalam alqur'an itu sebenarnya adalah hubungan yang bersifat muamalah. Yaitu menjaga harmoni dalam kehidupan manusia pada umumnya. Membuka aurat secara terang-terangan juga akan menimbulkan dampak secara moral yaitu mengumbar nafsu syahwat. Nafsu Syah wat tidak lain adalah satu satu pintu masuk setan dan jiwa manusia. Kewajiban menutu dada, serta menjaga pandangan itu memang ada. Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak2 perempuanmu dan istri-istri orang mukmin bahwa mereka harus memanjangkan pakaian mereka. Yang demikian itu supaya mereka dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Allah adalah Maha Pengampun, Maha Pengasih. Uni terus terang, tidak terlalu kaku dalam menyikapi soal ini. Karena masalah pakaian seorang muslimah adalah sebagaian kecil dari tuntunan yang diberikan alquran kepada umat islam. Bahwa sesungguhnya ada yang jauh lebih penting dari sekedar cara berpakaian seperti kemaslahatan lainnya yang diharapkan Allah SWT kepada hambanya yang beriman. Jadi jika seandainya Tanty saat ini tidak menggunakan Jilbab lagi, Uni yakin Tanty tetap sebagai seorang wanita muslimah yang tidak lalai dalam beribadah kepada Allah SWT dan tidak pula meninggalkan hubungan muamalahnya. Tanty tau tidak, kita sering melihat seorang ibu yang berjilbab ketat mendampingi anak disuatu pertandingan hiburan, yang hanya menggunakakan pakaian ala kadarnya " kain basahan " kata urang awak, seperti tampil di acara Mama Seleb, Akademi fantasi, dll. berpelukan sambil kegirangan. Ini jauh lebih mudharat .. Masya Allah. |
 | Wa'alaikum salam uni Evi. Terima kasih atas komentarnya yang membesarkan hati. Walaupun tidak pake hijab lagi, tapi aku tetap memakai pakaian muslim. Selain modelnya bagus juga nyaman dipakai. Aku rajin minta dikirimin dari Indo juga pesen melalui internet.
Oya, aku baca buku yang bagus dan sangat menarik. Sebuah buku yang bisa mengubah cara pandang kita terhadap Islam, lingkungan sosial dan bagaimana caranya untuk lebih dekat dengan Allah, Sang Pencipta. Buku ini juga akan membuka pikiran kita untuk lebih mengerti tentang isi dari Al Qur’an dan bagaimana menerapkan pengetahuan tersebut dalam hidup kita.
Kalau mau, nanti aku email PDF filenya. |
 | Ass. wr. wb, ahaa... uni senang sekali menerima kiriman itu. Silahkan dikirim ke email uni ya.... Kecup sayang buat Bel-brend. |
 | Assalamu'alaikum Tanty, Saya mohon ampun pada-Nya. Tidak sepantasnya saya menuliskan tulisan diatas pada komentar pertama saya. Saya tidak bermaksud memberikan judge pada Tanty mmg hanya Dia yang akan memberi pernilaian akan apa yg telah kita lakukan. Sekali lagi maaf yang tulus dari dalam hati saya, karena terdorong emosi sehingga menuliskan komentar yg tidak pantas ke sesama saudara. Bukankah muslim itu bersaudara, betapa tidak pantasnya saya menuduh yg tidak2 pada Tanty, belum tentu amal saya diterima oleh-Nya daripada amal Tanty. Alhamdulillah kalau Tanty merasa makin dekat dengan-Nya, karena tulisan2 yang Tanty tulis itu benar2 menunjukkan bahwa betapa Allah melebihkan ilmu atas Tanty. Semoga Allah selalu menjaga kita semua dalam hidayah-Nya dan semoga semua muslim dimanapun berada saling ingat mengingatkan. Sekali lagi maafkan saya. wassalam |
 | Ass.wr.wb Kepada saudaraku Elda, adapun yang anda kemukakan tidaklah salah. Karena apa yang anda sampaikan, dalam Al qur'an itu memang ada. Setiap insan yang beriman dapat menafsirkan apa yang ada dalam alqur'an itu sebagai sesuatu yang baik dan menjadi tuntutan kita dalam menjalankan hablun minannas dan hablunminallah.. Harapan kita, bagi Tanty yang jauh dinegeri orang dan berada pada mayoritas agama lain, tentu Tanty tetap memelihara iman dan islamnya. Di Indonesia saja saat ini banyak sekali aliran islam. Terakhir yang disebut dengan " jaringan islam sekuler ". Sungguh Uni tidak tahu, siapa penganutnya, apa sesungguhnya pemahaman keislamannya, dan bagaimana kita menyikapinya dengan semakin tidak ada batas antara dunia nyata dan dunia maya. Aku selalu berdoa " Ya Allah berilah aku pertunjuk jalan yang lurus. Jalan yang Engkau ridhoi, sehingga aku tetap berada dijalan Mu dan agama yang disampaikan oleh utusanMu dan RasulMu Muhammad SAW. Tanty, buku terjemahan itu sedang Uni baca semoga kita dapat memetik hikmahnya. |
 | Maaf mbak numpang komentar. dalam menafsirkan AlQur'an tidak bisa serampangan sekena otak kita yang awam ini, kita harus merujuk pada para ahli tafsir Al-Qur'an yang tentu mereka tidak akan meninggalkan hadits. Seseorang yang beragama Islam tentu tidak akan meninggalkan Al-Qur'an dan Hadits, dan barangsiapa meninggalkan salah satu di antaranya maka dia bukan orang Islam, karena dalam Al-Quran Allah berfirman taatlilah Allah dan Rasulnya, artinya semua keterangan dari Rasul berupa Hadits juga harus kita pegang danpatuhi. Sebenarnya Surat Annur dan Al-ahzab dengan tafsir para ahli tafsir saja sudah cukup menegaskan bahwa jilbab/hijab itu wajib, dari sejarah tidak bisa kita ambil kesimpulan kita sendiri, tetapi tetap harus merujuk para ulama ahli tafsir . semoga anda segera bertobat mbak, Allah Maha Pengampun, cobalah lebih banyak mencari literatur Islam dari dunia Islam, jangan dari dunia barat (sekuler dan non Islam) |
 | Assalamu'alaikum Alhabib, Terima kasih atas komentarnya dan saya sangat menghargai pendapat anda. Artikel di atas saya ambil dari situs muslim www.free-minds.org. Dan mereka adalah kumpulan orang-orang yang telah bertahun-tahun mempelajari isi dan makna dari Al Qur'an. Jadi mereka tidak serampangan dalam menafsirkan Al Qur'an. Anda bisa baca sendiri situsnya yang sayangnya baru ada dalam 3 bahasa. Inggris, German dan Arab.
Ketika Allah berfirman dalan Kitab Suci: 'Taatilah Allah dan RasulNya', kaum tradisional muslim mengartikannya bahwa Allah diwakili oleh Qur'an dan Rasul diwakili oleh Bukhari dan penulis hadis lainnya. Padahal yang dimaksudkan Allah dengan kalimat 'Taatilah Allah dan RasulNya' adalah bahwa kalimat-kalimat Allah disampaikan melalui seorang pembawa pesan yaitu nabi, hanya kalimat-kalimat Allah lah yang harus kita taati.
Ingat, nabi adalah messenger atau pembawa pesan. Tugas nabi hanyalah menyampaikan pesan. Seandainya anda menerima pesan, mana yang lebih penting, si pembawa pesan atau pesannya itu sendiri?
Tugas nabi hanyalah menyampaikan Kitab Suci 5:102; 16:35; 16:82; 24:54; 36:16-17; 14:52 dll.
Al Qur'an adalah sebuah kitab yang lengkap, sempurna dan terperinci. "Patutkah aku mencari yang lain selain Allah sebagai sumber hukum, padahal Dia lah yang telah menurunkan kitab dengan terperinci? ..." (Surat 6 ayat 114) "Telah sempurnalah kalimat Tuhanmu (Al Qur'an) sebagai kalimat yang benar dan adil. Tidak ada yang dapat mengubah-ubah kalimat-kalimatNya. ..." (Surat 6 ayat 115)
Juga 2:159-160; 10:37; 11:11; 41:1-3; 22:16; 12:111; 14:52; 17:89; 75:16-19; 18:54; 20:113; 39:27-28; 54:17; 25:33; 16:89 dll. "Tidak ada satu perkarapun yang Kami abaikan dalam Kitab Suci" (Surat 6 ayat 38) Ini menjelaskan bahwa Kitab Suci telah mencakup seluruh prinsip penetapan syari’ah, sehingga tidak ada lagi peran bagi hadits untuk menetapkan hukum dan membuat syari’ah.
Lebih lengkap lagi pembahasan mengenai hadis, silakan baca postingan saya yang berjudul 'The Myth of Hadith!' dan 'Who Authorized Bukhari?'
Saya juga banyak membaca literatur Islam dari dunia Islam seperti almarhum Ahmad Deedat, Harun Yahya, Kassim Ahmad, Quraish Shihab, dll. Darimana anda bisa tahu bahwa literatur yang ditulis oleh orang dari dunia barat adalah salah atau sesat kalau anda belum membacanya? Ingat bahwa Allah juga berfirman, janganlah berburuk sangka. Belum tentu umat muslim yang sudah memeluk agama Islam sejak lahir lebih baik dan lebih mengerti Al Qur'an daripada orang yang masuk Islam karena mencari kebenaran. Saya hanya berhenti memakai jilbab (tidak ada dasarnya dalam Al Qur'an, dan saya tidak memaksa anda untuk setuju dengan pendapat saya) bukan berubah menjadi seorang kafir. Anda yang mengatakan bahwa saya bukan Islam karena tidak mengikuti hadis, bukan Allah. Only Allah that can judge.
Wassalam, |
 | Ass. Mbak yang baik, coba baca kembali reply saya terdahulu, barat (sekuler atau non muslim). Seandainya orang barat itu seorang ahli tafsir its OK. Paham? Anda perlu telusuri kembali siapa orang-orang yang ada di www.free-minds.org.tersebut, apakah mereka ulama ahli tafsir atau bukan. Mbak, Islam mempunyai sistem yang sangat baik, di mana hukum-hukum tidak bisa ditafsirkan atau ditetapkan kecuali oleh ahlinya atau merujuk kepadanya, itupun orang yang merujuk bukan sembarang orang .Apakah orang di www.free-minds.org. hafal Al-Quran?tahu ilmu tafsir?bisa bahasa arab? ilmu nahwu sorof? Beberapa yang anda tulis saya sangat setuju, terutama ayat-ayat AlQur'an nya. Benar Rasul hanya penyampai pesan, semua berasal dari Allah, nah justru karena itulah kita tidak bisa dan tidak boleh meninggalkan hadits. Karena Rasul tidak berkata-kata untuk menetapkan hukum melainkan atas bimbingan dan wahyu dari Allah AWT. Allah Swt berfirman di dalam Kitab-Nya Yang Mulia : “Barangsiapa yang menta’ati Rasul itu, sesungguhnya ia telah menta’ati Allah. Dan barangsiapa yang berpaling, maka Kami tidak mengutusmu untuk menjadi pemelihara bagi mereka.” (QS Al-Nisaa [4] ayat 80). Sekali lagi Allah Swt menekankan pernyataan-Nya bahwa ketaatan kepada Rasul-Nya adalah mutlak sama dengan ketaatan kepada Diri-Nya. Ayat ini sekaligus memperkuat kemaksuman (keterpeliharaan) Rasulullah dari segala dosa . Karena jika Rasulullah Saw bisa berbuat salah dan berdosa maka Allah Swt tidak mewajibkan orang Islam untuk mentaati beliau secara mutlak seperti bunyi ayat di atas. Oleh karena itu : “Dan tidaklah patut bagi laki-laki yang mu’min dan tidak (pula) bagi perempuan yang mu’min, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Dan barangsiapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya maka sungguhlah dia telah sesat, sesat yang nyata.” (QS Al-Ahzab [33] ayat 36) Jadi, apapun keputusan Rasulullah saw atas kaum Muslim, maka itu adalah dari Allah Swt dan tidaklah pantas bagi orang yang mengaku beriman untuk menolak apalagi menyanggah perintah beliau. Siapa pun yang berani menolak perintah Rasulullah Saw berarti dia telah mendurhakai Allah dan Rasul-Nya dan dia berada di jalan yang sesat! Ayat ini tidak berdiri sendiri, cobalah Anda simak ayat ini : “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu (Rasulullah Saw sebagai) hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.” (QS Al-Nisa [4] ayat 65). “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.” (QS Al-Hasyr [59] ayat 7). Hal ini sekaligus mengomentari 'The Myth of Hadith' anda. Terkadang ayat AlQur'an memerlukan penjelasan implementatif, dan penjelasan tersebut harus berdasar bimbingan Allah lewat wahyu yang diberikan kepada Rasul dan outputnya adalah hadits, contoh perintah sholat, tidak ada penjelasan bagaimana sholat itu yang tercantum dalam al-Qur'an, implementasi/praktek sholat sendiri dijelaskan oleh hadits. tidak ada pertentangan, Al-quran itu dari Allah, hadits juga dari Allah pada hakekatnya. Saya harap mbak memahami ini. Suudzan? Suudzan adalah prasangka buruk, dia keluar tanpa adanya alasan-alasan yang melandasinya, apa yang saya sampaikan ini Insya Allah bukan Su'udzan, ini adalah koreksi, nasehat menasihati dalam kebaikan. Wassalam. |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | Assalamu'alaikum Alhabib, Dan darimana anda tahu bahwa orang-orang yang tergabung dalam situs tersebut tidak tahu ilmu tafsir, tidak hapal Al Qur'an, tidak bisa berbahasa Arab, dll? Memangnya ahli ulama dan hapal Al Qur'an hanya orang Indonesia atau orang-orang yang anda kenal? Anda tidak bisa menerima kebenaran atas apa yang ditulis dalam situs itu, itu terserah anda. Tidak ada paksaan dalam Islam. Saya yakin dengan keyakinan saya. Dan anda yakin dengan keyakinan anda. Jadi tidak perlu saling berbantahan disini Terima kasih. Semoga Allah yang Maha Bijaksana mengampuni dan memberkati kita semua. Wassalam, |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | ASSALAMUALIKUM WAROHMATULLOHIWABAROKATUH “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang-orang mukmin: ‘Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal dan oleh karenanya mereka tidak diganggu. Dan ALLOH SWT Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzab: 59).
Keterangan: Jilbab dalam bahasa Arab berarti pakaian yang menutupi seluruh tubuh (pakaian kurung), bukan berarti jilbab dalam bahasa kita (lihat arti kata khimar di atas). Ayat ini menjelaskan pada kita bahwa menutup seluruh tubuh adalah KEWAJIBAN setiap mukminah dan merupakan tanda keimanan mereka.
"Hadis riwayat Aisyah RA, bahwasanya Asma binti Abu Bakar masuk menjumpai Rasululloh SAW dengan pakaian yang tipis, lantas Rasululloh SAW berpaling darinya dan berkata:“Hai Asma, seseungguhnya jika seorang wanita sudah mencapai usia haid (akil baligh) maka tak ada yang layak terlihat kecuali ini,” sambil beliau menunjuk wajah dan telapak tangan". (HR. Abu Daud dan Baihaqi).
Keterangan : Hadis ini menunjukkan dua hal: a. Kewajiban menutup seluruh tubuh wanita kecuali wajah dan telapak tangan. b. Pakaian yang tipis tidak memenuhi syarat untuk menutup aurat.
Dari kedua dalil di atas jelaslah batasan aurat bagi wanita, yaitu seluruh tubuh kecuali wajah dan dua telapak tangan. Dari dalil tersebut pula kita memahami bahwa menutup aurat adalah WAJIB. Berarti jika dilaksanakan akan menghasilkan pahala dan jika tidak dilakukan maka akan menuai dosa. Kewajiban menutup aurat ini tidak hanya berlaku pada saat solat saja namun juga pada semua tempat yang memungkinkan ada laki-laki lain bisa melihatnya. |
 | Hampir semua wanita yang beriman memahami bahwa menggunakan jilbab wajib hukumnya. Namun kewajiban yang satu ini tentu tidak seberat dalam kita mendirikan sholat, menunaikan zakat, dll sebagaimana yang diwajibkan dalam rukun islam. Jadi kita serahkan sajalah kepada keimanan wanita itu bagaimana menyikapi dirinya dalam cara berbusana. |
 | tanty06 wrote on Jun 16, '08, edited on Jul 23, '08 Wa'alaikum salaam Fadli, Terima kasih atas komen nya. Sudahkah anda membaca keseluruhan artikel diatas?
“According to the Quran, as long as Muslims are dressed modestly and behave respectably, no specific dress code is required… modest behavior is also encouraged, therefore ogling the cute boy in Chemistry class or leering at the cheerleaders is definitely out! …Each person must read the Quran for herself and form her own opinion.”
[7:26] “Hai anak Adam, sesungguhnya Kami telah menurunkan kepadamu pakaian untuk menutupi auratmu dan pakaian indah sebagai perhiasan. Dan pakaian yang terbaik adalah pakaian yang sederhana dan sopan. Yang demikian itu adalah sebahagian dari tanda-tanda kekuasaan Allah, mudah2an mereka memperhatikan.”
An important distinction difficult for fundamentalists of all faith traditions is that dress codes are a matter of choice, not religious mandate or obligation. Without choice, no act bears meaning. According to Islamic scripture, an act is judged by the intent with which it was performed. If a woman chooses to wear a scarf because she believes in its benefit to her, she has a pure motive. However, if she covers to please another person, whether that person is her husband, brother, father or mother, while not believing in its benefits, the motive is lost and the act of wearing it loses all meaning.
"Khimar" adalah kata dalam bahasa Arab yang bisa ditemukan dalam Qur’an surah 24:31. Sementara peraturan dasar pertama tentang berpakaian untuk kaum muslimah dapat ditemukan dalam surah 7:26, peraturan kedua dapat ditemukan dalam surah 24:31. Beberapa Muslim mengutip ayat 31 dari surah 24 sebagai hijab, atau penutup kepala, dengan menunjuk kata, khumurihinna (dari Khimar), melupakan bahwa Allah sudah menggunakan kata Hijab beberapa kali dalam Al-Qur’an. Bagi mereka yang dirahmati oleh Allah dapat melihat bahwa penggunaan kata “Khimar” dalam ayat ini bukanlah untuk “hijab” atau untuk penutup kepala. Mereka yang mengutip ayat ini biasanya menambahkan (penutup kepala) setelah kata khumurihinna, dan biasanya antara ( ), karena itu adalah tambahan dari mereka bukan dari Allah.
So, seperti kata uni Evy diatas, semuanya terserah kepada individu masing-masing. Setiap orang harus membaca Al Qur'an untuk dirinya sendiri, dalam arti mengerti akan isinya, bukan hanya sekedar reciting (melantunkan ayat-ayat Al Qur'an tanpa mengerti artinya) dan menginterpretasikannya sendiri tanpa harus terpengaruh dengan pendapat kebanyakan orang.
Wassalam.
|
 | Assalamualaikum, semoga menjumpai ibu Tanti dan forum sekalian ini dalam keadaan terbaik.
Terimakasih, sangat menarik sekali topiknya, kebetulan saya sedang berada dalam keraguan, setelah sekian lama tidak tergerak untuk memakai kerudung, belakangan ini hati saya terus menggebu gebu ingin mencari tahu apakah kerudung itu wajib atau tidak wajib? dulu waktu kuliah di bandung pun bahkan saya memandang agak aneh teman teman wanita aktivis salman itb yang berjilbab dan berjubah panjang. selama kuliah saya totaly stay away dari kegiatan mesjid Salman, alangkah sangat merugi nya saya waktu itu tdk memanfaat kan waktu luang saya di masjid.
Sayangnya saat ini saya belum istiqomah berkerudung oleh karena suatu hal.
yg jadi pertanyaan saya skrg, shahih kan hadist yg menerangkan jika sholat seorang muslimah tidak akan diterima jika tidak menutup rambut nya? apakah rambut wanita aurat kalau shalat saja?
kalau memang kerudung tidak wajib kenapa ibadah sholat atau naik haji ada dress code nya memakai pakaian longgar jilbab dan rambut kepala tertutup?
apakah hanya sekedar tradisi saja memakai mukena/kerudung/jilbab waktu sholat atauh haji itu?
kalau memang tradisi wanita tidak wajib memakai mukena/jilbab/kerudung kalau sholat maka hukumnya jadi mencampur adukan antara tradisi/kebiasaan atau menambah nambahi aturan ibadah?
Saat ini preference hati saya skrg lbh menilai bahwa wanita akan kelihatan lebih modest tanpa menunjukan lekuk tubuhnya, lebih modest tanpa menunjukan keindahan rambut nya, dengan istilah lain tutupi rambut nya dengan kerudung sederhana, karena rambut memang mahkota wanita yg indah dan rambut menjadi bingkai kecantikan siapa saja yg memandangnya.
Sungguh wawllahuallam saya tidak tahu, tapi inshaAllah yg saya inginkan adalah mengikuti perintah Alquran dan hadist shahih nabi Muhammad SAW.
Terlepas dari itu semua bagi saya pribadi saya akan berusaha mengutamakan prinsip kehati hatian dalam beragama/beribadah, saya menghargai pendapat lain dan tdk memaksa karena tidak ada paksaan dalam beragama. Begitupun juga tidak mudah membuat orang lain merasakan apa yg sedang kita rasakan, InshaAllah saya merasa lebih pasrah lebih dekat dengan Allah dan hati saya reserve sbg muslimah dalam tingkah laku saya ketika saya memakai kerudung, kerudung buat saya ibarat pagar diri untuk terus mengingat Allah dalam detik napas saya.
Sayang nya saya hati saya masih kerdil dan belum berani untuk istiqamah berkerudung krn saya hidup di eropa bersosialiasi diantara kaum non muslim dan kendala keluarga mertua saya yg non muslim yg tidak biasa melihat wanita muslim berkerudung, masih ada perasaan tidak nyaman ketika orang memandang saya dan ada perasaan semua jadi menjaga jarak ketika jilbab saya seolah pertanda simbol mengumumkan diri saya sebagai muslim di depan publik, terlebih lagi ada imej islamophobia di dunia barat
InshaAllah ke depan saya jadi istiqamah berkerudung untuk diri saya sendiri, karena saya merasakan perasaan luar biasa damai, tenang dan dekat dengan Allah ketika berkerudung, saya tidak ingin kehilangan perasaan indah itu hanya untuk dirasakan saya sendiri, walaupun sebagian mengatakan jilbab tidak wajib dalam islam. Sayang nya belum ada dukungan penuh dari keluarga, siapa tahu suatu saat nanto. Allah maha pengasih maha pemurah dan Maha pemaaf kepada umatnya ampuni hambaMu ini jika memang itu kewajiban istiqamah kan hati saya.
Wassalam
|
 | tanty06 wrote on Jan 1, '09, edited on Jan 1, '09 Salaam Elsa, Dalam artikel di atas sudah dikemukakan bahwa tidak ada perintah untuk menutupi kepala atau rambut dalam Al Quran, yang ada adalah tutupi dadamu. Seandainya anda membaca artikel saya di atas dengan open minded, sudah jelas sekali bahwa menggunakan jilbab tidak wajib dalam Islam.
We have a choice, following the revealed word of Allah in Quran, or following manmade fabrications and hearsay of hadiths. I know what I put my faith in!
Please give me your email address so I can send you more info and knowledge about hijab in order to make you more understand and easier to make up your mind.
|
 | tanty06 wrote on Jan 1, '09, edited on Jan 1, '09 Salaam Elsa,
I forgot to say that you can read my post about hadith under the title 'The Myth of Hadith' and 'Who Authorized Bukhari'. For your info, I have refuted hadiths and only follow the Quran because Allah has told us that this book is complete, perfect and fully detailed.
Wassalam |
 | Terimakasih banyak Tanty, I will be happy to read them, here is my correspondence email nurseryrhymes74@yahoo.com
I would like to get the feel about the hadith apakah sahih yg menyebutkan woman should only showed the non muhrim the face, hands palm only? Bukankah tidak lengkap sbg muslim mempelajari AlQuran tanpa dilengkapi dengan panduan hadist shahih? Bukankah ahklak, anjuran Rasul juga harus kita terapkan dan pertimbangkan. Saya baca tafsir Quran berulang ulang memang kata jilbab - jalabiyah tidak straight away berarti menutupi rambut di masa lalu. tapi dengan common sense kalau begitu sholat dan naik haji pun tidak wajib memakai mukena karena rambut bukan aurat? anyway thanks again for the link i will read it, it is not the easy thing for me to make up my mind about this. Saya pribadi apapun bentuk manifestasi keimanan selama menjadikan kita dekat kepada Allah dan memegang rukun islam dan rukun iman dengan teguh itulah yg wajib kita pegang. jazakilah
|
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | benih99 wrote on Apr 12, '09, edited on Apr 12, '09 Bism Allah Ar Rahmaan Ar Rahiim,
Salaam alaikum wa Rahmat Allah wa Barakatuh,
Sekedar urun fikiran. Terlepas dari alasan memakai atau tidak memakai jilbab/hijab di atas, sesungguhnya ada banyak hikmah dari pemakaian hijab.
Mari berkunjung ke Timur Tengah dimana model hijab berasal. Pemakaian hijab di wilayah ini, dengan pemahaman umum kaum perempuannya untuk mematuhi apa yang tertulis dalam Al-Qur'an yang mana pada dasarnya ayat2 tersebut dimaksud untuk melindungi kehormatan kaum perempuan segala jaman (bukan hanya pada masa Rasulullah SAW masih hidup), dilakukan dengan menutup seluruh anggota tubuh mulai dari kepala sampai kaki dan dilebihkan sehasta, disebut 'abaya'.
Perempuan2 di Timur Tengah lebih dihormati ketika ia mengenakan abaya dengan desain amat mendasar (baca : sederhana) yaitu hitam polos, sangat longgar hingga tidak ada bagian tubuh yang menonjol dari balik abaya dan tanpa sedikitpun pernak-pernik, masih ditambah dengan 'niqab' (cadar).
Mengapa perempuan diperintahkan menutup auratnya? (Sekali lagi terlepas dari bagian manakah yang disebut aurat itu yang kemudian berujung kepada apakah perlu menutup ini dan itu atau membiarkan ini dan itu terbuka) Karena Allah berkehendak melindungi ciptaanNya yang satu ini. DIA menciptakan perempuan begitu indahnya sehingga setiap bagian dari tubuhnya bila tertampakkan memungkinkan orang berhasrat untuk memilikinya, padahal perempuan tersebut tidak halal untuk ia miliki. Kalau kita lihat fenomena masyarakat saat ini, bukan hanya laki2 yang berhasrat kepada perempuan, bahkan ada perempuan yang berhasrat kepada sesama jenis, Na'udzubillahi min zaliik.
Jangankan seluruh wajah atau bahkan lekuk tubuhnya, meski seluruh tubuhnya tertutup abaya dan wajahnya tertutup niqab dengan meninggalkan hanya bagian mata yang tampak, mata seorang perempuan saja bisa begitu indahnya sehingga mengundang minat orang yang memandang untuk mengaguminya. Rambut yang indah bila tertampakkan membingkai wajah seorang perempuan yang menurut standar umum biasa2 saja, bisa sangat merubah daya tarik. Tengkuk yang mulus dengan anak rambut yang halus tumbuh di sana sini bisa mengundang shahwah. Betis yang padat berisi, bisa mengundang hasrat. Apalagi lekuk2 tubuh perempuan.
Kecantikan fisik bersifat sangat relatif. Cantik dalam pandangan seseorang, belum tentu cantik dalam pandangan orang lainnya. Ada perempuan yang menurut 'standar umum' tidak cantik, tetapi memiliki keindahan batin yang sangat tinggi sehingga keindahan itu terpancar di matanya, maka matanyalah yang menarik perhatian, bagian2 tubuh lainnya menyusul menarik perhatian. Pun dengan keindahan intelektual.
Subhan Allah, Maha Sempurna dalam setiap penciptaanNya. Maha Kasih, sehingga untuk kaum perempuan, Ia secara khusus menurunkan ayat2 tentang bagaimana cara berpakaian di dalam kitabNya yang suci, hanya untuk melindungi perempuan itu sendiri.
Bagaimana dengan perempuan yang memutuskan tidak berhijab sama sekali? Hanya Allah yang berhak menilai siapa yang lebih 'open minded' dan lebih 'berakal sehat' di antara mahluk2Nya.
Wassalaam. |
Comment deleted at the request of the thread owner.
 | Mashaa Allah...betul2 komentar yang menggelitik dan mengundang senyum.
Menggunakan logika sah2 saja, logika adalah salah satu alat yang DIBERIKAN oleh Allah supaya manusia bisa menjalani hidupnya dengan baik. Tetapi menggunakan logika untuk mempertanyakan kecerdasan Allah dalam pemilihan kata2 yang diturunkanNya dalam Al-Qur'an merupakan bentuk kesombongan hasil ciptaan kepada Sang Pencipta dan Allah sangat membenci sifat sombong.
Sejatinya, siapa kita ini? Begitu berani mempertanyakan kebesaran Allah dengan hanya bermodalkan salah satu alat yang jika DIA berkehendak dalam sejentik jari saja bisa diambilNya? Astaghfir Allah...
Kalau dikatakan bahwa bahkan ulama yang paling ternama sekalipun gagal menjelaskan banyak poin dalam Al-Qur'an, ya jelas saja, karena bukan mereka yang menciptakan Al-Qur'an, Justru di situlah bukti kebesaran Allah. Bahwa DIA tidak sama dengan mahluk. Bahwa DIA punya HAK PENUH menentukan setiap kejadian di dunia tanpa harus memberi penjelasan kepada siapapun apa alasannya.
Jadi kalau mau berpikir terbuka, berpikir terbukalah kepada Allah dan gunakanlah akal sehat dengan akal sehat.
Semoga Allah mengampuni kesalahan2 yang kita buat karena keterbatasan kita dalam memahami kalam2Nya. Amin. |
 | Salaam all,
Berhubung ini adalah site saya pribadi, jadi saya tidak bisa mentolerir komentar-komentar yang vulgar dan tidak sopan. Dengan sangat menyesal saya terpaksa delete komentar-komentar yang tidak pantas tersebut. Use your brain, that's all I want to say to all the readers of my site.
Wassalam
|
| |